Minggu, 10 Juni 2012

PERANAN BAHASA INDONESIA TERHADAP PENGEMBANGAN IPTEK DI ERA GLOBALISASI

nama : wahyu aji wicaksono
npm: 11209193
kelas: 3ea15
tugas: softskill inodesia2


PERANAN BAHASA INDONESIA TERHADAP PENGEMBANGAN IPTEK DI ERA GLOBALISASI


            Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu.
            Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
PERANAN BAHASA INDONESIA TERHADAP PENGEMBANGAN IPTEK DI ERA GLOBALISASI


            Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu.
            Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
            Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu.

            Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
            Peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana keilmuan perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seirama dengan ini, peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu terus dilakukan.
            Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis justru bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu?
            Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak, pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya (Sawali Tuhusetya, 2007).
            Melihat persoalan di atas, tidak ada kata lain, kecuali menegaskan kembali pentingnya pemakaian bahasa Indonesia dengan kaidah yang baik dan benar. Hal ini –disamping dapat dimulai dari diri sendiri- juga perlu didukung oleh pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
            Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, berbicara, dan kemampuan bersastra. Aktivitas membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan membaca, mahasiswa dilatih mengingat, memahami isi bacaan, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu, mahasiswa juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.



            Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
            Peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana keilmuan perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seirama dengan ini, peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu terus dilakukan.
            Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis justru bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu?
            Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak, pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya (Sawali Tuhusetya, 2007).
            Melihat persoalan di atas, tidak ada kata lain, kecuali menegaskan kembali pentingnya pemakaian bahasa Indonesia dengan kaidah yang baik dan benar. Hal ini –disamping dapat dimulai dari diri sendiri- juga perlu didukung oleh pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
            Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, berbicara, dan kemampuan bersastra. Aktivitas membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan membaca, mahasiswa dilatih mengingat, memahami isi bacaan, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu, mahasiswa juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.



ANALISIS PENGARUH BAHASA GAUL TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

nama: wahyu aji wicaksono
kelas : 3ea15
npm: 11209193
tugas bahasa Indonesia

ANALISIS PENGARUH BAHASA GAUL TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


   Bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Bahasa gaul pada saat itu dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Contoh bahasa gaul diantaranya : kamu-loe, aku-gue, tidak peduli-emang gue pikirin, ayah-bokap, ibu-nyokap dll. Pada umumnya bahasa gaul digunakan sebagai sarana komunikasi di antara sekelompok remaja tertentu. Dengan sarana komunikasi itu mereka dapat bebas menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar orang lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Karena masa remaja memiliki karakteristi antara lain pengelompokan, petualangan dan kenakalan. Sehingga keinginan untuk membuat kelompok eksklusiflah yang menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia.
Seiring dengan berkembangnya zaman semakin terlihat pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia, sehingga penggunaannya menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Masyarakat sudah banyak yang menggunakan bahasa gaul bukan hanya di kota-kota besar saja tetapi di kota-kota kecil pun menggunakan bahasa gaul tersebut terutama para remaja. Karena pengaruh bahasa gaul lah yang menyebabkan mereka lupa akan bahasa nasionalnya sendiri yaitu bahasa Indonesia. Sedih sekali rasanya.
Betapa rapuhnya sikap percaya diri bangsa terhadap bahasa nasionalnya sehingga keadaan ini menjadi lebih parah. Mungkin menurut mereka bahasa kita yang kaku dan terkadang membingungkan ini perlu diperbaharui menjadi bahasa yang lebih modern dan lebih gaul. Tidak sedikit pun mereka menghargai perjuangan para pendahulu yang selalu bangga berbahasa Indonesia dengan benar. Yang ada alasan ketinggalan zaman, kurang modern dll membuat mereka seperti itu. Sikap menanamkan kecintaan dalam diri generasi muda bangsa lah yang bisa menghindari pemakaian bahasa gaul agar tidak semakin meluas.
Gambaran diatas setidaknya menjadi cerminan bagi kita sebagai generasi muda untuk mengajak generasi muda lainnya yang masih terlena oleh “budaya asing”, yang masih menganggap bahwa bahasa kita itu jadul dan perlu dipermak agar timbul rasa ingin kembali menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Marilah kita bangun bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang cinta akan bahasa nasionalnya yaitu bahasa Indonesia. Karena bahasa menunjukkan identitas suatu bangsa itu sendiri.
Banyaknya remaja yang menggunakan bahasa gaul akibat perkembangan zaman yang kian mengalami kemajuan baik dari pendidikan maupun teknologi. Gejala ini adalah salah satu penghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia dianggap penyimpangan terhadap bahasa. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya didalam masyarakat terutama dikalangan remaja.

Faizah, Umi17 April 2009.   Bahasa Indonesi, Antara Variasi dan Penggunaan. (online)
Alamt : (www.bahasa-indonesi-antara-variasi-dan-penggunaan) diakses 26 Oktober 2009
Sofa, Maret 31, 2009. Penggunaan Ragam Bahasa Gaul Dikalangan Remaja (online)
Alamat : (www.penggunaan-ragam-bahasa-gaul-dikalangan-remaja) diakses 26 Oktober 2009


Jumat, 06 April 2012

Mekanisme Kliring


Mekanisme Kliring



            Apabila ada 2 orang yang pertama bernama Karman dan yang satu nya bernama Siti dimana mereka itu bertransaksi dengan menggunakan kliring, melalui Bank Indonesia. Apabila Karman meminta dikirimkan uang melalui BI ke Siti maka Karman mengirim nota debit keluar ke BI untuk rekening Siti. Dan apabila Siti meminta dikirimkan dana dari rekening Karman,maka Siti mendapatkan nota kredit masuk ke BI dan Karman mendapatkan Kredit nota keluar. Dan jika NDK dmasukan ke saldo maka +,apabila NDM maka ditulis di rekening saldo -,apabila NKK ditulis pada saldo adalah -,NKM ditulis di saldo adalah +.
            LRR atau (lown to deposit ratio,dimana ada use of find yaitu asset. Di antaranya adalah kas reveres yang terdiri dari kas dan R/K pada Bi. Lalu low/kredit atau cash outflow. Adapun securities yang asal dananya terdiri dari stok,call money,obligasi. Adapun source of find yaitu capital yang merupakan sumber dana pertama yang berupa saham dan modal sendiri. Lalu ada securities yang merupakan sumber dana kedua yang sumber dana terletak dari kredit likuiditas,call money, pinjaman holding,obligasi. Setelah itu yang ketiga yang merupakan sumber dana terbanyak yaitu dari tabungan giro dan deposito.

Rabu, 04 April 2012

Pengalaman, satu hari kelas sastra jepang

Pertama kali masuk ke kelas Sastra Jepang ,Kelas chokai, sejenis kelas Listening gitu kalo kata cewek gue, waktu itu lagi ujian. Acaranya nonton kartun yang menurut gue sama kaya nonton film HOROR!! bahasanya sama sekali nggak ada yang gue ngerti. Jujur, mending gue nonton berita di tv one deh daripada nonton kartun tapi bahasanya nggak gue pahamin. Kartun ini seolah-olah ngeledek jiwa raga gue, seolah-olah ngatain gue, karena gue nggak paham sama sekali isinya. Mending gue nonton film kartun Doraemon di tivi deh daripada film kartun bahasa jepang yang gue sama sekali nggak ngerti isinya. dan untuk pertama kali gue bersyukur gue masuk di jurusan ekonomi. 



Lanjut ke Case ke-2
Kelas kedua. Begitu masuk kelas.. wew.. ini mata kuliah filsafat. Dan gue yakin yang mendekor kelas ini pasti menteri kehutanan. "GO GREEN" kalo kata anak gaul sekarang. Pas gue masuk ke kelas, ada sesosok cowok KW dan kata cewek gue, dia itu Hyperaktiv dan GAY !! astagaaaaa...!! gue ulang lagi, dia itu GAY!!!!! apa yang mesti gue lakuin kalo tiba-tiba dia mendekat? Apa gue harus pura-pura mati?? Nggak mungkin kan badan gue berat, kasian yang mesti ngangkat gue. Trus apalagi yang harus gue lakuin? Apa harus gue bales kalo dia belai-belai gue? (NGGAK MUNGKIN) Oiya, tiba-tiba gue terpikirkan satu ide. gue kan bawa cewe gue, gue bilang aja "Sorry ya gue masih suka sama cewek dan gue bukan salah satu dari kalian," sambil gue pegang tangannya trus gue bilang lagi, "Di luar sana masih banyak kok cowok yang mau sama elo" sambil tersenyum dan bijak. Yes. satu masalah : KELAR. 
Masalah berikutnya muncul pas gue liat dosen Filsafat cewe gue, (Beuh)dari kasat mata, penglihatan gue, sumpah! Dosen cewe gue mirip sama PETINJU DUNIA : MIKE TYSON. Kalo sampe Dosennya tahu, kalo gue bukan salah satu mahasiswa di kampus ini, gue yakin, pasti yang pertama dia lakuin, gue di Upppercut dan muka gue pasti bengep, kaya ikan yang di taro di daratan.Tapi perkiraan gue salah.. Dan sekarang gue agak berharap kalo apa yang gue harapin itu terjadi. Karena sampe detik kesekian, udah empat kali itu dosen ngeliatin gue pemirsaaahh!! Dan gue yakin, ini dosen mencium aroma mahasiswa Gunadarma masuk di kelas dia. Dan gue punya tiga pilihan kalo gue sampe ketawan gue bukan mahasiswa kampus ini : 

  1. Gue langsung kabur tanpa pamitan dari kelas.

  2. Gue pura-pura izin ke kamar mandi, pasang muka kebelet (bibir di miringin sedikit, mata agak melotot-jereng-kedip-kedip sambil kaki di jepit) dan buru-buru lari.

  3. Gue pura-pura gila/pura-pura penyakit ayan gue kambuh sambil berbuih mulut gue trus gue kejang-kejang guling-gulingan sampe gue gelindingan ke pintu keluar.

Dan pas sampe keluar gue bisa tenang dengan nikmatin kemenangan gue fufufu (ketawa licik)


Yak. inilah pengalaman gue ikut kelas cewek gue. :)

Kelinci Kecil Pemberani


KELINCI KECIL PEMBERANI


Di suatu cerita hiduplah seekor kelinci kecil yang sangat lucu. Kelinci itu tinggal di sebuah desa kecil yg berada jauh dari hutan. Kelinci ini hidup tidak sendirian. Ia di temani oleh 2 orang kakaknya. Kedua kakaknya itu bertubuh besar. Kakak-kakaknya itu sering kali berbuat iseng dengannya. Tetapi ia tetap tahan dengan perbuatan kakak-kakaknya itu. Nama kakak yang pertama adalah Mino dan seekor lagi bernama Meku. Kelinci kecil yang malang inipun bernama Momo.
          Di suatu pagi mereka sedang bermain di luar. Tetapi seperti biasa, Momo selalu di kucilkan oleh kedua kakaknya. Maka dari itu, Ia bermain sendirian. Terkadang ia sering bebuat jahil kepada orang sekitar agar ia mendapatkan perhatian dari orang sekitar. Kemudian Momo melihat ada beberapa wortel. Kemudian timbullah pikiran untuk berbuat iseng.
          “ Wah , ada wortel yg enak tuh sepertinya, lebih baik aku ambil saja, toh saat ini perutku juga sudah tidak bisa di ajak kompromi,” pikir Momo.
          Saat itu, ia diam-diam mendekati tempat berkumpulnya wortel itu. Lalu saat tidak ada orang, ia mengambil 2-3 buah wortel dan kemudian kabur. Ia pergi ke tempat yang sepi untuk memakannya. Saat sudah menemukan tempatnya, ia mencoba memakannya. Tapi ternyata rasanya sangatlah tidak enak. Setelah diselidiki ternyata wortel itu adalah wortel yang tidak terpakai untuk produksi karena kualitasnya sangatlah buruk. Akhirnya, Momo memahami kalau mengambil barang dengan mencuri maka hasilnya juga tidak akan bagus. Lalu Momo kebingungan mau melakukan apalagi.
          Setelah itu , ia melihat kedua kakaknya pergi masuk ke dalam hutan yang di sebut penduduk desa sebagai hutan terlarang karena banyak sekali hewan buasnya. Momopun mengikuti kedua kakaknya itu. Ia terus mengikutinya sampai ke dalam hutan. Hutan itu belum pernah Momo masuki. Hutan yang gelap dan terdapat kengerian di dalamnya. Setelah terus mengikuti kedua kakaknya , lama kelamaan kedua kakaknya itu hilang. Memang kabut yang ada di hutan itu sangat tebal.
          “ Kemana si kakak ya ?” pikir si Momo.
          Ia terus berjalan mengelilingi hutan itu. Tetapi setelah sampai di pertengahan hutan, ia kebingungan harus pergi kemana lagi.
          “ Huh, si kakak pergi kemana sih!! Lebih baik aku kembali saja ke rumah. Tapi aku lupa jalan pulangnya. Bagaimana ini ?” Momo kebingungan.
          Ia pun berjalan-jalan mengelilingi hutan tersebut , tetapi selama itu , ia tidak kunjung menemukan jalan keluar. Semakin banyak suara-suara aneh di hutan yang membuat tubuh Momo merinding. Tiba-tiba ia mendengar suara kelinci yang meminta tolong.
          “TTOOOLLLOOONNNGG!!!!” teriak seekor kelinci.
          “ Waduh , ada kelinci yang meminta tolong, tapi aku kan sendirian, kalaupun harus bertengkar pasti aku kalah. Tetapi sepertinya aku mengenal suara ini.”  Renung si Momo.
          Ternyata setelah di dengar lebih teliti lagi itu suara kedua kakak Momo. Momo pun menghampiri asal suara itu. Ia terkejut melihat kedua kakaknya sedang terjebak di dalam kerumunan serigala. Momopun mencari cara untuk mengalihkan perhatian serigala itu.
          Momo melemparkan batu ke arah semak-semak. Sebagian dari serigala itu pun mengejarnya dan saat mengejarnya ternyata di belakang semak itu adalah sungai. Serigala itu pun jatuh dan hanyut di sungai. Kemudian Momo memikirkan cara lain lagi agar serigala lainnya bisa di lumpuhkan.
          Ia melihat bahwa serigala itu mengepung seperti bentuk barisan.
Momo menemukan seutas tali panjang. Ia kemudian naik ke pohon dan mengikat tali ke batang pohon. Selanjutnya ia mengikatnya lagi ke batang pohon yg telah tumbang tetapi ukurannya tidak begitu besar. Momo menjatuhkan batang pohon itu yang kemudian mengayun ke arah serigala-serigala tersebut.
          Serigala itu terkena batang pohon itu dan kemudian mereka terlempar. Momo berteriak kepada kakak-kakaknya agar melarikan diri.
          “ Lari kak, mereka hanya berhenti beberapa saat saja. Sebaiknya kita lari sampai menemukan jalan keluar dari hutan ini. “ ujar Momo.
          Akhirnya mereka bertiga melarikan diri. Tetapi masih ada satu serigala yang sadar dan ia pun mengejar kami.
          “ Wah , di belakang kita masih ada yang mengejar. Kita harus cepat , Kak.” Kata Momo.
          Kami bertiga terus lari dengan cepat hingga menemukan cahaya yang sangat terang. Cahaya itu adalah jalan keluar dari hutan ini menuju desa. Kami terus berlari dan akhirnya bisa keluar dari hutan itu.
          Serigala yang tadi mengikuti kami juga keluar dari hutan itu, tetapi banyak warga desa yang kemudian menyerangnya dengan peralatan seadanya dan serigala itupun kembali ke hutan. Kami akhirnya selamat dari serigala dan hutan terlarang tersebut. Kami bertiga berjanji tidak akan pernah mengunjungi hutan itu lagi.
          Setelah itu sikap kakak terhadapku berubah. Mereka menjadi baik dan tidak pernah berbuat jahil terhadapku lagi karena mereka sudah ku tolong di saat peristiwa hutan yang lalu. Hidup kami pun lebih tentram sekarang ini.